Kamis, 02 Oktober 2014

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR AGRONOMI




LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR AGRONOMI
Dosen Pengampu: Ir. Yekti Maryani, MS.
                

Description: logo-ust.jpg

Disusun Oleh:
Devriany Ananja Putri
Danis Dwi Haryani
Oktavianus Muliadi

Agribisnis
Agroteknologi
Agroteknologi

11010015
11009007
12009030


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA
2013




KATA PENGANTAR
Assalamual’aikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan rahmat dan Hidayah-Nya serta kesempatan, sehingga kami dapat menyelesaikan  laporan praktikum Dasar-dasar Agronomi ini dengan lancar. Pembuatan laporan praktikum Dasar-dasar Agronomi merupakan salah satu tugas kelompok yang bertujuan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa terhadap mata kuliah Dasar-dasar Agronomi.
Terimakasih saya ucapkan kepada   :
1.    Ir. Yekti Maryani, MS. Sebagai  dosen pengampu mata kuliah Dasar-dasar Agronomi yang telah membimbing dan mendampingi  kami dalam proses pembelajaran baik di. Kelas maupun di laboratorium.
2.   Mas Puji Waluyo, sebagai Co. Ass yang telah membantu kita menyelesaikan praktikum.
3.   Untuk kedua orangtua yang tiada henti memotivasi dan mendoakan putra-putrinya, dan
4.   Kepada rekan-rekan seangkatan yang telah memotivasi kami untuk menyelesaikan laporan praktikum Dasar-dasar Agronomi ini.
Laporan praktikum ini belum sempurna karena masih banyak kekurangan, baik dalam hal materi, pembahasan ataupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, saya sangat mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun dalam penyempurnaaan laporan praktikum Dasar-dasar Agronomi ini. Semoga laporan praktikum Dasar-dasar Agronomi ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi kelompok kami dan umumnya bagi pembaca. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yogyakarta,   Januari 2013

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Pendahuluan
Laporan acara I
Lapran Acara II
Laporan Acara III










ACARA I
PENGARUH KEDALAMAN TANAH TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN BIBIT
 I.   Tinjauan Pustaka

Perkecambahan merupakan permulaan proses tumbuhnya embrio yang sebelumnya dalam keadaan istirahat. Biji akan berkecambah apabila syarat yang dibutuhkan untuk perkecambahan terpenuhi. Meskipun demikian perkecambahan biji tersebut sering kali mangalami hambatan yang disebabkan oleh faktor dalam (keadaan biji itu sendiri) maupun faktor luar (antara lain adanya air, oksigen, cahaya, suhu) yang tidak sesuai.
Tanah merupakan suatu sistem komplek yang terdiri dari 4 komponen: batu-batuan (mineral) bahan organik, air dan zat yang larut serta jumlah didalam tanah sangat bervariasi. Begitu juga keadaan udaranya. Dimana keadaan ini dapat dikatakan berlebihan dengan keadaan udara. Berbeda dengan keadaan udara didalam tanah, komposisi udara didalam tanah bervariasi. Semakin kedalam maka kandungan O2  pun semakin rendah namun kandungan CO2 semakin tinggi. Kekurangan O2  didalam tanah ini tidak dapat diganti dengan segera karena berada diruang sinambung. Disamping itu didalam tanah bermacam-macam organisme seperti: bakteri, jamur, cacing, dll, semua organisme ini secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkecambahan benih dan pertumbuhan biji terancam.
Perkecambahan yang berhasil baik yang biasanya hanya terjadi pada kedalaman tanah tertentu. Beberapa jenis tanaman tertentu mampu tumbuh apabila tanaman berkecambah pada permukaan tanah, tetapi yang berguna sebagai pedoman adalah biji-biji tanaman tersebut sebaiknya ditutup dengan tanah untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya dan mencegah gangguan binatang. Penanaman benih yang terlalu dalam akan menyebabkan bibit tumbuh dalam keadaan lemah.




 II.   Tujuan
1.     Untuk mengetahui pengaruh kedalaman tanah terhadap prosentase perkecambahan benih
2.    Untuk mengetahui pengaruh kedalaman tanah terhadap pertumbuhan bibit
3.    Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kedalaman tanah dengan ukuran biji

III.   Persiapan
Bahan:
·         Biji kacang hijau
·         Tanah
·         Polibag
Alat :
·         Cethok
·         Penggaris
·         Timbangan

IV.   Cara Kerja
1.      Mengisi 6 polibag dengan tanah yang sama banyaknya kemudian ratakan kurang lebih 2cm didalam permukaan polibag
2.     Membasahi tanah dengan air hingga kapasitas lapang
3.     Menanam biji kacang hijau tadi sesuai dengan kedalaman tanamnya yaitu 5 cm, 10 cm dan 15 cm dari permukaan tanah

 V.   Data Pengamatan
Diamati biji yang berkecambah tiap hari secara komulatif. Biji yang sudah tumbuh dibiarkan untuk diamati pertumbuhannya yaitu dengan menghitung jumlah daun dan mengukur tinggi tanaman.


Kedalaman tanam
Tinggi
Jumlah Daun
A
B
C
A
B
C
5
30
24.6
26
8
8
8
10

-
-
-
-
-
15
16.5
16.3
25
8
8
8


            VI. Perhitungan
·      Menghitung presentase benih yang berkecambah dan muncul pada permukaan tanah
·      Membuat grafik hubungan antara presentase benih yang berkecambah dengan kedalaman tanah
·      Kesimpulan
         VII.      Daftar Pustaka
Croker, W. 1953. Phisologi of seeds
Kramer, 1969. Plant and soil water relationship
Weaves and fciements. 1977. Plant Ecology















ACARA II
PENGARUH KERAPATAN SEBAR BENIH TERHADAP KUALITAS BIBIT PADI

I.    Tinjauan Pustaka
Penanaman padi secara pemindahan bibit (transplanting) memerlukan adanya peningkatan kesehatan bibit selama dipersemaian bibit yang sehat dan kualitasnya baik akan dapat menyesuaikan dengan keadaan lapang (tempat penanaman) lebih baik, dan ini juga dapat mempengaruhi pertumbuhan padi muda selanjutnya.
Pada umumnya para petani menggunakan benih yang lebih banyak daripada yang dianjurkan. Sedangkan luas persemaian yang digunakan lebih sempit dari yang seharusnya, sehingga kerapatan sebarnya lebih tinggi. Bibit yang diameternya terlalu rapat, kebutuhan cahaya tiap bibit tidak terpenuhi sehingga tidak akan tumbuh sangat panjang, kurus dan lemah. Tanaman yang menunjukkan kenampakan seperti ini akan dikatakan etiolasi. Bibit yang kurus ini disebabkan pula oleh adanya persaingan antar individu bibit itu sendiri didalam membutuhkan unsur hara untuk pertumbuhannya.
Jumlah benih dianjurkan kurang lebih 25 kg/ha, sedangkan kerapatan sebarnya 75 gram/m2.

II. Tujuan
1.     Untuk mengetahui pengaruh kerapatan sebar terhadap kualitas benih padi
2.    Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kualitas bibit padi dengan berat keringnya

III.           Persiapan
Bahan:
·         Biji padi
·         Tanah
Alat:
·         Polibag
·         Penggaris
IV. Cara Kerja
Menyiapkan 9 buah polibag yang berdiameter sama yang kemudian diisi dengan tanah yang beratnya sama pula, menambahkan air hingga kapasitas lapang. Benih padi disemaikan pada tiap-tiap polibag dengan kerapatan sebar 100 gr/m2, 75 gr/m2 dan 50 gr/m2. Bibit dipelihara agar pertumbuhannya tidak mengalami gangguan.

V.   Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap 2 hari sekali sampai bibit berumur 21 hari. Setelah berumur 21 hari dicatat mengenai:
1.     Jumlah daun
2.    Tinggi bibit
3.    Jumlah anakan
Pengamatan dilakukan dengan mengambil 5 contoh bibit secara acak pada masing-masing perlakuan. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kualitas dengan berat kering bibit, maka 5 contoh bibit dari masing-masing contoh tersebut dioven sampai beratnya tetap.
Dalam penilaian kualitas bibit, Numata 1971 cit. Muhammad Soerjani, 1974 menyarankan penggunaan ukuran relative, yaitu Summed growth ratio (SGR) tanaman:
 %
Dimana:        L’ = ratio of the number of leaves
                             T’ = ratio of the number of tillers
                             H’ = raio of the number of height
Dari hasil perhitungan apabila SGR suatu bibit lebih tinggi maka bibit tersebut mempunyai kualitas yang lebih baik daripada yang lainnya.




VI.         Data Pengamatan
Kerapaatan Sebar
L
T
H
2
4
20
0.05
3
6
15
0.09
4
6
15
0.05

VII.           Perhitungan  
1.     Menghitung dan membandingkan SGR masing-masing pada perlakuan
 %
Diketahui     :
L2 : 4
T2 : 20
H2 : 0.05
L3 : 6
T3 : 15
H3 : 0.09
L4 : 6
T4 : 15
H4 : 0.05
Ditanyakan   :
SGR2, SGR3, SGR4 …….?
Penyelesaian :
L2 ‘ : 4/16 x 100%  = 25 %
L3 ‘ : 6/16 x 100%  = 37.5%
L4 ‘ : 6/16 x 100%  = 37.5%
T2 ‘ : 20/50 x 100%         = 40%
T3 ‘ : 15/50 x 100% = 30%
T4 ‘ : 15/50 x 100% = 30%
H2 ‘ : 0.05/0.19 x 100%    = 26.32%
H3 ‘ : 0.09/0.19 x 100%    = 47.37%
H4 ‘ : 0.05/0.19 x 100%    = 26.32%




SGR2  : (L2 ‘ +  T2 ‘ + H2 ‘) ÷ 3
          : (25% + 40% + 26.32%) ÷ 3
          : 30.44%
SGR3  : (L3 ‘ +  T3 ‘ + H3 ‘) ÷ 3
          : (37.5% + 30% + 47.37%) ÷ 3
          : 38.29%
SGR4  : (L4 ‘ +  T4 ‘ + H4 ‘) ÷ 3
          : (37.5% + 30% + 26.32%) ÷ 3
          : 31.27%
Pembahasan
Kesimpulan















ACARA III
PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF STEK

I.            Tinjauan Pustaka
Stek merupakan cara memperoleh tanaman dengan sebagian batang, sehelai daun, sepotong daun atau akar yang disiapkan/diambil dari tanaman induk.
Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk memprlihatkan tenteng penggunaan zat kimia tertentu untuk merangsang pertumbuhan akar pada stek. Beberapa zat kimia yang telah dicoba antara lain: Indol Acetic Acid (IAA), Indol Butyric Acid (IBA), Napthalena Acetid Acid (NAA). Bahan kimia ini tidak hanya membantu mempercepat penyembuhan luka dan memproduksi akar, tetapi juga mempercepat perkembangan dan memperbanyak jumlah akar. Penggunaan pengatur tumbuh harus dengan konsentrasi optimum yang berbeda. Untuk memudahkan pengaturan ini maka digunakan roton F yang bahan aktifnya berupa IBA dengan dosis berupa tepung atau bubuk, dapat digunakan secara langsung atau dapat digunakan sebagai cairan larutan.
Adapun prinsip penurusan atau penyetekan adalah mengaktifkan pembelahan sel-sel jaringan basal turus agar tesbentuk khalus yang pada akhir nya khalus akan berkembang menjadi akar, kelebihan cara stek yaitu kita bisa mendapatkan tanaman dalam jumlah yang besar dalam waktu yang relative singkat. Hal ini disebabkan dalam pohon dapat diperoleh beratus-ratus bahan materi stek dan juga dengan penggunaan hormone perangsang perakaran, kita dapatkan perakaran baru yang lebih cepat.

II.         Tujuan
Untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan induknya.

III.      Persiapan
Bahan:
Alat:
·         Gunting tanaman
·         Pisau

IV.      Cara Kerja
Cara kerja perbanyakan stek meliputi pemilihan turus dari tunas/cabang wiwilan yang berwarna hijau kecoklatan yang berdiameter sebesar pensil, potong turus atau stek tersebut dan usahakan luka basal sekecil mungkin atau dipotong miring agar permukaannya lebih luas sehingga keluarnya akar lebih banyak. Segera setelah dipotong satu ruas, 2 ruas, 3 ruas (kurang lebih 15 cm) basal turus atau stek dicelupkan pada zat pengatur tumbuh yang telah disiapkan sebelumnya (kurang lebih 5 detik sebelumnya). Kering angin sebentar agar larutan bisa meresap pada basal stek, baru kemudian ditanam pada media pasir sedih yang telah dilubangi lebih dahulu (agar basal stek tidak busuk dan larutan tidak hilang) dengan jarak tanam 5-10 cm.

V.        Pengamatan
1.     Pengamatan dilakukan setiap satu minggu selama dua bulan
2.    Memberi kesimpulan dan pembahasan apabila ada perlakuan tidak jadi berilah kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan.








ACARA IV
PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF SAMBUNG DAN TEMPEL

I.        Tinjauan Pustaka
Grafting merupakan salah satu cara untuk memperbanyak tanaman dengan jalan memersatukan (menyambung, menempel) 2 bagian tanaman sehingga melekat satu sama lain dan tumbuh merupakan satu tanaman. Bagian atas dari tanaman yang baru (bagian yang disambungkan/ditempelkan) disebut scion, sedangkan bagian bawah disebut stock atau understam atau batang bawah. Apabila scion merupakan budding (menempel, okulasi). Dengan eting-eting dan budding atau penyambungan dan okulasi ini maka tanaman yang baru akan memiliki sifat-sifat campuran dari kedua induknya, oleh karena itu penyambungan dan okulasi dapat dipergunakan antara lain untuk:
a)    Mempertahankan sifat-sifat klon suatu tanaman yang tidak mudah dikembangkan dengan stek, layering atau perkembangbiakan aseksual/vegetative yang lain
b)   Memperoleh sifat-sifat baik dari kedua induknya
c)    Memperoleh bentuk pertumbuhan tanaman tertentu
d)   Memperoleh keuntungan tertentu dari stock, misalnya berakar kuat, dalam, tahan terhadap hama atau penyakit, dan sebagainya
e)   Memperbaiki kerusakan-kerusakan bagian tanaman
f)    Mempelajari penyakit yang disebabkan oleh virus
Berhasil atau tidaknya penyambungan dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
1.      Penyesuaian antara dua bagian tanaman pokok (incompatibilitas)
2.     Temperatur dan kelembaban
3.     Aktivitas petumbuhan stock
4.     Teknik pekerjaan
5.     Kontaminasi virus, hama, penyakit, selama dilakukan penyambungan/eting dan okulasi
Tidak semua tanaman dapat disambung atau diokulasi dengan mudah. Pada umumnya terbatas pada tanaman-tanaman dikotil saja.
Hal ini disebabkan karena untuk berhasilnya dari okulasi diperlukan adanya jaringan khalus yang dihasilkan didekat daerah kambium dari kedua bagian tanaman yang disambungkan tersebut. Oleh karena itu dalam menggabungkan dua

























Anonim,2010. http://www.kebonkembang.com/serba-serbi-rubrik-44/178-pupuk-kontroversi-seputar-pupuk-a-pemupukan-tanaman.html. Diakses pada hari Rabu tanggal 22 Juni 2011 pada pukul 19.00 WIB.
Anonim, 2009. www.3orchid.com.  Diakses pada hari Rabu tanggal 22 Juni 2011 pada pukul 19.00 WIB.
Foth, Henry D. 2006. Fundamentals of Soil Science, Sixth Edition. Erlangga. Jakarta
Hidajat, A. 2000. Pedoman Bertani di Rumah Kaca. Vol V. Erlangga. Jakarta.
Kristina. D. 1996. Budidaya Pertanian. Jurnal Tropika.
Sutomo, Hadi. 2005. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. UGM Press. Yogyakarta
Subroto, H. dan Awang Yusrani. 2005. Kesuburan dan Pemanfaatan Tanah. Bayumedia Publishing. Malang.
Sumiati. 2000. Bahan Kuliah Pengantar Agronomi. Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi. Bogor.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar