Minggu, 26 Juni 2016

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA


LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Oleh: Devriany Ananja Putri (11010015)
Dosen Pengampu: Ir. Rosanna Christiningsih, MS.

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA
2012

  


1.1.    BAGIAN PERTAMA
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
ACARA I
UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT
Dosen Pengampu: Ir. Rosanna Christiningsih, MS.
Selasa, 30 Oktober 2012


PENDAHULUAN
A.  TUJUAN
a.    Dapat memahami apa itu karbohidrat dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
b.     Identifikasi larutan karbohidrat berdasarkan pembagian jenisnya.
c.    Menganalisis sifat-sifat karbohidrat.
d.    Memahami  hubungan reaksi karbohidrat dengan stukturnya.
B.  DASAR TEORI
Karbohidrat merupakan senyawa – senyawa aldehida atau keton yang mempunyai gugus hidroksil. Senyawa – senyawa ini menyusun sebagian besar bahan organic di dunia karena peran multipelnya pada semua bentuk kehidupan. Karbohidrat bertindak sebagai sumber energi, bahan  bakar, dan  zat antara metabolisme. Contoh : pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan adalah polisakarida yang dapat dimobilisasi untuk menghasilkan glukosa (bahan bakar utama untuk pembentukan energi). Gula ribosa dan deoksi ribosa pembentuk sebagian kerangka struktur RNA dan DNA. Fleksibilitas cincin kedua gula ini penting pada penyimpanan dan ekspresi informasi genetika.
Adapun berbagai macam karbohidrat yang terdapat dalam  makanan diantaranya adalah amilum atau pati dan sukrosa (gula tebu). Karbohidrat (glukosa) dibentuk dari karbondioksida dan air dengan bantuan cahaya matahari dan klorofil dalam daun. Selanjutnya glukosa yang dihasilkan diubah menjadi amilum dan disimpan pada buah atau umbi. Reaksinya adalah:
6CO2 + H2O        C6H12O6 + 602
Karbohidrat atau sakarida terdapat gugus hidroksil (-OH), gugus aldehid atau gugus keton. Maka dapat didefinisikan bahwa karbohidrat sebagai senyawa polihidroksi aldehida atau  polihidroksi keton, atau senyawa yang dihidrolisis dari keduanya. Karbohidrat dapat digolongkan berdasarkan jumlah monomer penyusunnya. Ada 3 jenis karbohidrat berdasarkan  penggolongan ini, yaitu:
Ø  Monosakarida
Ø  Disakarida (Oligosakarida)
Ø  Polisakarida

*      Monosakarida
      Monosakarida merupakan senyawa karbohidrat yang paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis lagi. Umumnya senyawa ini adalah aldehid atau keton  yang  mempunyai  2 atau lebih gugus hidroksil. Beberapa molekul karbohidrat ada yang mengandung unsur nitrogen dan sulfur. Rumus empiris karbohidrat adalah (CH2O)n. Jika gugus karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan aldehid maka monosakarida ini disebut aldosa. Jika gugus karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan keton maka monosakarida ini disebut ketosa. Monosakarida yang paling kecil n = 3 adalah gliseraldehid dan dihidroksiaseton.

*      Disakarida (Oligosakarida)
      Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari 2 sampai 10 monosakarida. Yang termasuk kelompok ini adalah disakarida, trisakarida, Dan seterusnya. Disakarida terdiri dari 2 monosakarida yang terikat dengan O-Glikosidik. 3 senyawa disakarida utama yang penting dan melimpah ruah di alam yaitu sukrosa, laktosa dan maltosa. Ketiga senyawa ini memiliki rumus molekul yang sama (C12H22O11) tetapi struktur molekul berbeda.
      Sukrosa atau gula pasir dibuat dari tetes tebu. Sukrosa lebih manis dari glukosa, tetapi kurang manis dibandingkan dengan fruktosa, sangat mudah larut dalam air. Gula ini dipakai untuk membuat sirup, gula – gula dan pemanis makanan. Jika senyawa ini dihidrolisis akan dihasilkan satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa.
      Laktosa disebut gula susu karena terdapat banyak dalam air susu. Biasanya diperoleh dari air susu. Gula ini merupakan gula yang paling suka larut dalam air dan paling tidak manis. Enzim dalam bakteri tertentu akan mengubah laktosa menjadi asam laktat, hal ini terjadi bila susu berubah menjadi masam. Laktosa dipakai untuk membuat makanan bayi dan diet spesial. Jika dihidrolisis akan dihasilkan 1 molekul glukosa dan 1 molekul galaktosa.
      Maltosa disebut sebagai gula mout, banyak terdapat pada jelai yang sedang berkecambah. Senyawa ini merupakan hasil hidrolisis parsial dari pati. Dibandingkan dngan sukrosa zat ini lebih sukar larut dan kurang manis. Senyawa ini dipergunakan untuk penyusun makanan bayi, susu bubuk, dan bahan makanan lainnya. Jika dihidrolisis akan dihasilkan 2 molekul glukosa.


*      Polisakarida
      Polisakarida tersusun oleh monosakarida yang tergabung dengan ikatan glukosida. Pati merupakan salah satu contoh polisakarida yang tersusun oleh glukosa. Dipandang dari strukturnya, butir –butir pati terdiri atas 2 bagian yaitu : Bagian amilosa yang merupakan rantai lurus polimer glukosa, dan bagian amilopektin yang terdiri atas rantai bercabang polimer glukosa jika dihidrolisis sempurna akan dihasilkan molekul – molekul glukosa.
      Identifikasi monosakarida dilakukan berdasarkan sifat kemampuannya mereduksi, yang dilakukan menggunakan uji Benedict. Uji Molicsch dipergunakan untuk mengenal karbohidrat yang mudah mengalami dehidrasi membentuk furfural maupun dihidrosifurfural yang lebih lanjut berkondensasi dengan resorsinol, orsinol ataupun -naftol. Reagen Seliwanof dipergunakan untuk mengenal adanya karbohidrat yang mengandung gugus fungsional aldehid seperti fruktosa dan sukrosa. Pereaksi barfoed digunakan secara umum untuk mengenal adanya monosakarida. Uji Iodin secara khusus dipergunakan untuk mengidentifikasi adanya polisakarida amilum.

C.  ALAT DAN BAHAN
Bahan :

-        Larutan yang belum diketahui sifatnya, disebut Larutan A, B, C, dan D.
-        Larutan 5 % alfanafsol.
-        Alcohol.
-        Asam sulfat (H2SO4).
-        Asam clorida (HCl).
-        Larutan Benedict.
-        Larutan Barfoed.
-        Larutan resolnisol.
-        Larutan Jod


Alat :

-        Tabung reaksi.
-        Pipet ukur.
-        Drop pipet.
-        Penjepit.
-        Penangas air.
-        Cawan porselin.

D.  CARA KERJA
Menguji semua larutan/bahan dengan:
1.     Uji molisch
2.    Uji benedict
3.    Uji barfoed
4.    Uji yodium

Percobaan 1 : Uji Molisch
a.    Menyiapkan  4 tabung reaksi, masing-masing diisi dengan larutan A, B, C, dan D.
b.    Menambahkan kedalam masing-masing tabung reaksi setetes larutan 5% alfanafsol dalam alcohol, kemudian digojog pelan-pelan.
c.    Menuangkan 3 ml H2SO4 melalui dinding tabung reaksi masing-masing dengan hati-hati, dan menggojog atau menggoyangkannya.
d.    Mengamati apakah terbentuk cincin.

Percobaan 2 : Uji Benedict
Menyiapkan tabung reaksi masing-masing diisi dengan larutan benedict sebanyak 3 ml.
a.    Kemudian menambahkan masing-masing larutan A, B, C dan D.
b.    Memanaskan dalam air mendidih selama 10 menit.

Percobaan 3 : Uji Barfoed
a.    Menyiapkan 4 tabung yang sudah bersih.
b.    Menambahkan kedalam tabung-tabung tersebut sebagai berikut:
1.     + 5 ml larutan Barfoed + 5 ml larutan A.
2.    + 5 ml larutan Barfoed + 5 ml larutan B
3.    + 5 ml larutan Barfoed + 5 ml larutan C
4.    + 5 ml larutan Barfoed + 5 ml larutan D
c.    Memanaskan 4 tabung tersebut bersama-sama dalam penangas air mendidih selama 30 menit.
d.    Membandingkan kecepatan mereduksi satu terhadap yang lain.


Percobaan 5 : Uji Jod
a.    Meneteskan larutan A, B, C, dan D  pada cawan porselin kering.
b.    Menambahkan larutan Jod (0,005 N Jod dalam 3% KJ).
c.    Mengaduk dan mengamati perubahan warna yang terjadi.

DATA PENGAMATAN
Lampiran 1. 1.
PEMBAHASAN
1)  Uji Molish
Uji molish adalah reaksi  yang  paling  umum untuk mengidentifikasi adanya karbohidrat. Pada percobaan ini asam sulfat pekat menghidrolisis ikatan glikosidik (ikatan yang menghubungkan monosakarida satu dengan monosakarida yang lain) menghasilkan monosakarida yang selanjutnya didehidrasi menjadi fultural dan turunannya.
            Pada percobaan uji molish dengan menguji keempat larutan karbohidrat yang telah ditetesi dengan pereaksi molish selanjutnya dihidrolisis dengan asam  sulfat  pekat (H­2SO4) maka terjadi  pemutusan ikatan glikosidik dari rantai karbohidrat polisakarida menjadi disakarida dan monosakarida. Hasil dari uji molish antara lain :
-          Pada larutan A setelah ditambahkan Alfanafsol kemudian digojog dan ditambahkan H2SO4 terjadi perubahan warna pada larutan dan terbentuk lapisan-lapisan warna yaitu coklat 2+, ungu 2+, bening, putih.
-          Pada larutan B setelah ditambahkan Alfanafsol dan H2SO4 terjadi perubahan warna pada larutan dan terbentuk lapisan-lapisan warna yaitu coklat 4+, orange.
-          Pada larutan C setelah ditambahkan Alfanafsol, digojog dan ditambahkan H2SO4 terjadi perubahan warna pada larutan dan terbentuk lapisan-lapisan warna yaitu ungu 2+, ungu 4+, kuning.
-          Pada larutan D setelah ditambahkan Alfanafsol kemudian digojog dan ditambahkan H2SO4 terjadi perubahan warna pada larutan dan terbentuk lapisan-lapisan warna yaitu coklat, jernih, ungu, gumpalan krem.

Larutan yang bereaksi positif akan memberikan cincin yang berwarna ungu ketika direaksikan dengan alfa-naftol dan asam sulfat pekat. Diperkirakan, konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan alfa-naftol untuk membentuk produk berwarna. Reaksi pembentukan furfural ini adalah reaksi dehidrasi atau pelepasan molekul air dari suatu senyawa. Dimana pereaksi molish membentuk cincin berwarna ungu pada larutan glukosa, fruktosa, laktosa, sukrosa, dekstrin dan amilum. Cincin ungu  pada glukosa dan fruktosa lebih banyak karena merupakan monosakarida. Sedangkan amilum adalah polisakarida yang harus dihidrolisis menjadi monosakarida terlebih dahulu sebelum terdehidrasi menjadi furfural. Berdasarkan prinsip percobaan dengan uji molish, hasilnya (fulfural) mengalami sulfonasi dengan alfa naftol dan memberikan senyawa berwarna ungu kompleks. Tetapi hal ini tidak terbukti dari larutan yang telah kami uji, karena larutan yang kami uji tidak mengandund warna ungu komplek, yaitu pada larutan A, B, C, dan D setelah ditambahkan Alfanafsol kemudian digojog dan ditambahkan H2SO4 maka semua larutan mengalami perubahan warna dan terbentuk lapisan-lapisan warna dengan urutan coklat, ungu. Pada semua larutan tidak muncul cincin warna ungu. Hal ini menunjukkan bahwa larutan tersebut tidak mempunyai kandungan karbohidrat. Hal ini karena tidak terjadinya kondensasi antara furtural alfanafsol.

2)  Uji Benedict
Uji benedict bertujuan untuk mengidentifikasi gula pereduksi. Pada percobaan ini dengan menguji larutan  karbohidrat kedalam 2 ml larutan benedict yang berada dalam tabung reaksi. Dimana dari keempat larutan karbohidrat ditambahkan larutan benedict, larutan karbohidrat yang bereaksi adalah larutan A, B, C, dan D. Reaksi yang diberikan oleh ke-4 larutan karbohidrat tersebut berupa hasil warna antara lain :
-          Setelah larutan benedict ditambahkan larutan A dan dipanaskan selama 10 menit terjadi perubahan warna menjadi kuning dengan endapan berwarna kuning.
-          Setelah larutan benedict ditambahkan larutan B dan dipanaskan selama 10 menit terjadi perubahan warna menjadi orange, dengan endapan endapan berwarna putih .
-          Setelah larutan benedict ditambahkan larutan C dan dipanaskan selama 10 menit terjadi perubahan warna menjadi jingga dengan endapan berwarna putih.
-          Setelah larutan benedict ditambahkan larutan D dan dipanaskan selama 10 menit terjadi perubahan warna menjadi orange, kuning, dan coklat 4+.
 Penyebab terjadinya endapan pada larutan A, B, dan C yang di uji menunjukan adanya sifat mereduksi. Hal ini disebabkan oleh adanya gugus aldehid (glukosa) atau keton (fruktosa) bebas dalam molekul karbohidrat yang diuji tersebut. Dalam asam polisakarida atau disakarida akan terhidrolisis pasial menjadi sebagian kecil monomernya. Hal inilah yang dijadikan dasar untuk membedakan polisakarida, disakarida, dan monosakarida.
3)  Uji Barfoed
Uji barfoed bertujuan untuk memisahkan antara monosakarida dan disakarida. Pereaksi barfoed bersifat asam lemah dan hanya direduksi oleh monosakarida. Pemanasan yang lama menghidrolisis disakarida sehingga bereaksi positif. Dari uji barfoed dihasilkan reaksi dengan warna, antara lain :
-          Campuran larutan Barfoed dengan larutan A yang panaskan selama 30 menit akan mengalami perubahan warna menjadi biru dengan endapannya yang berwarna hijau dan coklat.
-          Campuran larutan Barfoed dengan larutan B yang panaskan selama 30 menit akan mengalami perubahan warna menjadi biru dengan endapannya berwarna biru, coklat dan putih.
-          Campuran larutan Barfoed dengan larutan C yang panaskan selama 30 menit akan mengalami perubahan warna menjadi biru dengan endapannya berwarna hijau dan terbentuk cicncin berwarna biru.
-          Campuran larutan Barfoed dengan larutan D yang panaskan selama 30 menit akan mengalami perubahan warna menjadi biru dengan endapan bewarna ungu dan gumpalan berwarna ungu dan abu-abu.
Pereaksi barfoed merupakan pereaksi yang bersifat asam lemah dan hanya dapat direduksi oleh monosakarida dan disakarida meskipun terdapat perbedaan kecepatan mereduksi diantara keduannya. Glukosa dan fruktosa adalah monosakarida. Sehingga hanya kedua larutan karbohidrat tersebut yang memberikan reaksi (endapan merah bata). Artinya hanya kedua larutan tersebut yang ada sifat mereduksi. Sementara amilum dan dekstrin termasuk dalam polisakarida dimana pada amilum dan dekstrin tersebut tidak terjadi endapan karena tidak adannya sifat mereduksi pada kedua larutan karbohidrat tersebut.Disakarida (sukrosa dan laktosa) sebenarnya dapat bereaksi. Dimana disakarida tersebut akan dapat dihidrolisis sehingga bereaksi positif tetapi hal tersebut hanya dapat terjadi dengan pemanasan yang lebih lama. Sedangkan pada praktikum kami dengan percobaan tes barfoed kedua jenis disakarida(sukrosa dan laktosa) tersebut tidak bereaksi. Hal ini disebabkan pemanasan pada kedua larutan disakarida kurang lama. Jika kedua disakarida tersebut lebih lama pemanasannya, maka kedua larutan disakarida tersebut juga akan dapat bereaksi.  Dengan kata lain, untuk membedakan monosakarida, disakarida, polisakarida tergantung berapa lama pemanasan.Setelah dilakukan pemanasan semua bahan tidak bereaksi secara bersamaan. Artinya hal ini disebabkan karena monosakarida dapat mereduksi lebih cepat daripada disakarida dan polisakrida. Hal ini yang kemudian menunjukkan bahwa pereaksi barfoed digunakan untuk membedakan antara monosakarida, disakarida dan polisakarida.
Dimana yang cepat mereduksi atau bereaksi adalah monosakarida. Sementara yang membutuhkan waktu lama dalam pemanasannya sampai bisa bereaksi adalah disakarida.
Perubahan warna yang terjadi dan perbedaan kepekatan warna terjadi dikarenakan sakarida yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas, mempunyai sifat mereduksi. Sifat ini dapat diketahui jika kedalam larutan di tambahkan larutan barfoed kemudian dipanaskan akan terbentuk endapan Cu2O yang berwarna merah bata. Karena pada uji larutan A, B, C dan D tidak terbentukendapan merah batamaka hal ini berarti semua larutan tersebut tidak mengandung karbohidrat.

4)  Uji Iodium
Percobaan uji iodium ini bertujuan untuk memisahkan antara polisakarida, monosakarida dan disakarida. Iodium memberikan warna kompleks dengan polisakarida. Amilum memberikan warna biru pada iodium, sedangkan glikogen dan tepung yang sudah dihidrolisis sebagian (eritrodekstrin) memberikan warna merah sampai coklat dengan iodium.
Pada percobaan yang telah dilakukan, empat larutan yang diujikan menghasilkan warna iodium yaitu bening, orange, kuning, kuning dan gumpalan coklat. Berbeda dengan teori, justru amilum tidak memberikan warna biru, hal ini dikarenakan larutan amilum yang akan diujikan tidak diaduk terlebih dahulu, akibatnya larutan amilum mengendap sehingga tidak menghasilkan warna seharusnya.
Untuk uji Jod terjadi juga perubahan warna berpasangan yaitu antar larutan C dan larutan D memiliki warna yang sama yaitu kuning. Ini terjadi karena diyodin dapat diabsorbsi oleh polisakarida hingga terjadi pewarnaan, dengan amilum akan memberi warna biru. Ini berarti semua larutan tidak mengandung karbohidrat.

PENUTUP
E.  KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
         Pada percobaan 1 atau uji molis larutan A, B, C, dan D tidak mengandung karbohidrat dari jenis monosakarida karena pada larutan A, B, C dan D tidak terbentuk cincin warna ungu. Hal ini karena H2SO4 pekat tidak menghidrolisis ikatan glikosida karbohidrat menjadi monosakarida, selanjutnya juga tidak mengalami dehidrasi membentuk furfural dan derivatnya. Setelah senyawa ini ditambahkan alfanaptol ternyata tidak menjadi zat yang berwarna ungu.
         Pada percobaan 2 atau uji benedict dapat diketahui bahwa larutan A, B, C dan D tidak mengandung karbohidrat karena pada uji benedict larutan yang mengandung karbohidrat akan berubah warna menjadi merah bata setelah ditambahkan larutan benedict dan dipanaskan. Sedangkan pada percobaan yang dilakukan perubahan warna yang terjadi larutan A menjadi kuning, larutan B berwarna orange, larutan C menjadi jingga, dan larutan D menjadi orange.
         Pada percobaan 3 atau uji barfoed larutan A, B, C, dan D juga tidak mengandung karbohidrat karena seperti pada uji benedict larutan yang mengandung karbohidrat akan berubah warna menjadi merah bata setelah ditambahkan larutan barfoed dan dipanaskan. Sedangkan pada percobaan yang dilakukan semua larutan berubah warna menjadi biru ( mayoritas ).
         Pada uji Jod larutan A, B, C, dan D tidak mengandung karbohidrat karena pada uji Jod larutan yang mengandung karbohidrat akan berubah warna menjadi biru setelah ditambahkan larutan Jod. Sedangkan warna pada larutan A menjadi bening, larutan B menjadi orange, dan larutan C dan D menjadi kuning.
         Karbohidrat penting peranannya dalam kehidupan, selain sebagai sumber tenaga, karbohidrat memiliki fungsi sebagai pusat metabolisme, struktural dan penyangga.
a)    Berdasarkan hasil percobaan, karbohidrat dapat diidentifikasi berdasarkan sifat-sifatnya menurut pembagian jenisnya, yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida.
b)   Antara larutan karbohidrat satu dengan yang lain memiliki sifat-sifat khusus tersendiri, missal hanya monosakarida dan beberapa oligosakarida yang dapat mereduksi gula. 

F.  DAFTAR PUSTAKA
-          Christiningsih MS, Ir. Rosanna. 2011. PETUNJUK PRAKTIKUM BIOKIMIA, Fakultas Pertanian UST, Yogyakarta.
-          Martoharsono, Ir. Soeharsono dan Drs. Mulyono Apt.1978. Petunjuk Praktika Biokimia, team pengelola kuliah dan praktika biokimia universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

                                    
  
1.2.    BAGIAN KEDUA
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
ACARA II
UJI KUALITATIF PROTEIN
Dosen Pengampu: Ir. Rosanna Christiningsih, MS.
Selasa, 06 November 2012


PENDAHULUAN
A.  TUJUAN
Untuk mengetahui keberadaan kandungan protein pada suatu larutan.
B.  DASAR TEORI
Lebih dari 50% berat kering senyawa organic total yang terdapat dalam sel adalah protein. Ditinjau dari segi struktur sel dan fungsinya, maka senyawa ini amatlah fundamental ( proteos, kata Yunani berarti yang terutama ). Jenis macam protein yang terdapat dalam jasad hidup mempunyai fungsi khusus. Ada yang berfungsi sebagai enzima, hormone dan penyusun jaringan tubuh.
Protein yang murni hanya tersusun dari asam amino saja, satu senyawa organic dengan berat molekul rendah. Asam-asam ini ikat mengikat secara kovalen menjadi peptide. Oleh karena itulah maka protein juga dinamakan polipeptida.
Cara mengklasifikasikan protein didasarkan atas beberapa hal antara lain ialah :
a.    Funsi biologic
b.    Kelarutan
c.    Konformasi

I.            Klasifikasi atas dasar funsi bologik
Golongan dan contoh
Lokasi dan sumber
1.     Enzima
Heksokinase
Dehydrogenase Laktat
Sitokhrom C
Polymerase DNA

Fosforilasi glukosa
Dehidrogenasi laktosa
Transfer electron
Replikasi dan perbaikan DNA
2.    Protein cadangan
Ovalbumin
Kasein
Ferritin
Gliadin
Zein

Protein putih telur
Protein susu
Cadangan Fe dalam spleen
Protein biji dalam gandum
Protein biji dalam jagung
3.    Protein transport
Hemoglobin
Hemosianin

Myoglobin
B1-lipoprotein
Globulin pengikat Fe
Keruplasmin

Transport O2 dalam darah vertebrata
Transport O2 dalam darah invertebrate
Transport O2 dalam sel otot
Transport asam lemak dalam darah
Transport Fe dalam darah
Transport Cu dalam darah
4.    Protein kontraktil
Myosin
Aktin
Dinein

Filament tebal dalam myofibril
Filament tipis dalam myofibril
Dalam cilia dan flagella
5.    Protein protekti dalam darah vertebrata
Antibody

Komlemen

Fibrinogen

Thrombin


Membentuk kompleks dengan protei asing
Kompleks dengan beberapa system antige-antibodi
Precursor fibrin dalam penggumpalan darah
Kompone pada mekanisme penggumpalan darah
6.    Toksin
Racun clostridium botulinum

Racun difteria
Racun ular

Risin
Gossipin

Penyebab keracunan pada bahan makanan
Toksin bakteri
Enzima yang menghidrolisis fosfogliserida ( dan nukleutida )
Protein toksik pada biji jarak
Protein toksik pada biji kapas
7.    Hormone
Insulin
Hormone adrenokortikotropik
Hormone tumbuh




  




8.    Protein strukturil
Protein pelindung pada virus
Glikopprotein
a-keratin

sklerotin
fibroin

kolagen
elastin
mukoprotein


Mengatur metabolisme glukosa
Mengatur sintesa kortikosteroid
Memacu pertumbuhan kacang-kacangan









Pita tipis asam nukleat
Lapis pelindung dan dinding pada sel
Protein pada kuit, kuku, buku dan lain-lain
Kerangka luar pada insekta
Protein dan kokon (rumah ulat kepompong)
Jaringan pengikat berserat
Jaringan pengikat bersifat elastis
Sekresi mukoid berupa cairan

Nama
Pereaksi
Asam / gugus
Warna

Biuret
Ninhidrin
Tembaga sulfat dalam larutan alkali
NH2-CHR-COOH
NH2-CO
Ungu
Ungu
Millon
HgNO3 dalam asam nitrat dan sedikit asam nitrit
Tirosin
Merah
Xantoprotein
Asam nitrat pekat mendidih
Tir,tri,…phetriptotan
Kuning
Hopkins-cole
Asam glioksilat dalam H2SO4 pekat
Triptofan
Ungu
Ehrlich
p-dimetilamino benzaldehida dalam HCl kuat
Triptofan
Biru
Sakaguchi
Na-nitroprusida dalam NH3 encer
Arginin
Merah
Nitroprosida
Na 1,2naftokinon-4-sulfonat dan Na-hidrosulfit diazotasi
Sistein
Merah
Sulivan
Asam sulfanilat dalam larutan alkali
Sistein
Merah
Pauly
Asam fosfomolibdotungstat
tirosin
Merah
Folin-ciocalteau


Biru
Jenis
Kerangka dasar
Kompleks
-          Asigliserol
-          Fosfogliserida
-          Sfingolipid
-          Lilin
Sederhana
-          Terpena
-          Seroida
-          prostaglandin

Gliserol
Gliserol-3-fosfat
Sfingosin
Alcohol non polar dengan BM tinggi

Dari table diatas dapat dikatakan bahwa protein adalah senyawa multi fungsionil. Diantara golongan-golaongan protein tersebut diatas, enzimlah yang paling besar jumlahnya yaitu sekitar 2000 jenis.
II.         Klasifikasi didasarkan atas kelarutan
Atas dasar kelarutannya dalam berbagai zat pelarut, protein dapat digolongkan menjadi :
1.     Albumin
2.    Globulin
3.    Prolamin
4.    Glutelin
III.      Klasifikasi atas dasar konformasi
Yang dimaksud dengan konformasi ialah bentuk tiga dimensi khusus yang dipunyai oleh tiap jenis molekul protein alami. Atas dasar bentuk alami inilah maka protein dibagi menjadi :
1.      Protein benang serat ( fibronus )
2.      Protein globular
Protein serat terdiri dari rantai-rantai polipeptida yang teratur parallel sepanjang sumbu tunggal, menghasilkan benangpanjang atau pita.
Protein globural terdiri dari rantai polipeptida yang melipat lipat dan membentuk gumpalan yang mampat. Golongan protein ini kebanyakan larut dalam pelarut berair. Pada ummnya enzim, antibody, hormone, serum, albumin dan hemoglobin tergolong daam protein globural. Sebagai contoh ialah myosin, yamg terdapat dalam jaringan otot, fibrinogen, terdapat dalam darah.

Reaksi dan sifat umum protein dan asam amino :
1.     Amfolit
2.    Koagulasi dan
3.    denaturasi
Koagulasi sering disebut juga dengan penggumpalan. Seperti putih telur (bagian putih telur) dituangkan ke dalam air mendidih maka masa yangmula-mula berupa larutan tidak berwarna, akan berubah menjadi padatan putih.
Perubahan fisik yang terjadidapat dipandang sebagai akibat daripada perubahan struktur tersier protein yang telah lanjut, sehingga menyimpang dari bentuk alamiahnya. Penyimpangan ini disebut dengan denaturasi.
Koagulasi adalah salah satu akibat  daripada proses denaturasi. Sedangkan denaturasi tidak perlu diikutioleh proses koagulasi. Selain olehh panas maka perubahan pH larutan protein akan menyebabkan protein tadi bias mengalami denaturasi dan selanjutnya menggumpal.
4.    Pembentukan warna
Table 1. 2 : Reaksi warna pada protein

5.    Hidrolisis rantai polipeptida
Ikatan peptide yang ada padaprotein dapat dihidrolisis dengan bantuan asam dalam keadaan panas, basa, atau enzim. Yang sering digunakan sebagai asam adalah HCl.sebelum protein dihidrolisis sempurana maka sekurang-kurangnya terdapat tiga tahap pemecahan. Hasl masing-masing tahap ialah metaprotein, proteosa, dan pepton, peptide sederhana.


C.  ALAT DAN BAHAN
Alat :
-        Tabung reaksi.                  
-        Drop pipet.
-        Pipet ukur.
-        Penjepit.
-        Erlenmeyer.
-        Corong.
-        Kain saring.
-        Penangas air.


Bahan
-        Larutan protein (misalnya bagian putih dari telur
-        Larutan HCl.
-        Larutan NaOH.
-        Aquadest.
-        Larutan ZnSO4 encer.
-        Larutan CuSO4 1%.
-        Kasein 2%.
-        Glysin.
-        Ninhidrin 0,2%.
-        Larutan HNO3.
-        Gandum.
-        Tepung kedelai.
-        Tepung beras.


D.  CARA KERJA
A.  Percobaan 1 : Denaturasi panas dan pH yang ekstrim
1.     Menyiapkan 3 tabung reaksi yang sudah bersih.
2.    Mengisi masing-masing dengan 5 ml larutan protein (misalnya bagian putih dari telur).
3.    Kemudian mengisi masing-masing tabung dengan :
Tabung 1 ditambah 0,5 ml HCl 1N
Tabung 2 ditambah 0,2 ml NaOH 1N
Tabung 3 ditambah 0,5 ml aquades
4.    Memasukkan semua tabung dalam penangas air mendidih selama 10 menit dan mencatat mana yang menggumpal paling awal dan yang paling akhir.
5.    Mendinginkan dan menetralkan tabung 1 dan 2 dengan asam atau basa encer.
6.    Mencatat perubahan yang terjadi.
G.  Percobaan 2 : Presipitasi dengan logam berat
1.     Menambah kedalam 2 ml larutan encer protein setetes demi setetes larutan ZnSO4 encer. Kemudian mencatat perubahan warna yang terjadi.
2.    Menambahkan pereaksi tersebut sehingga berlebihan.
3.    Mencatat apa yang terjadi.
H.  Percobaan 3 : Reaksi Biuret
1.     Memasukkan 2 ml larutan protein ke dalam tabung reaksi, dan menambahkan 2 ml NaOH 10%.
2.    Menambahkan beberapa tetes (5 tetes) larutan CuSO4 1%.
3.    Mencampur dengan baik dan mengamati warna yang terjadi.
4.    mengulangi percobaan tersebut satu kali sebagai kontrol.
I.   Percobaan 4 : Reaksi Ninhidrin
Menyiapkan 2 buah tabung reaksi yang sudah bersih.
1.     Memasukkan masing-masing 1 ml kasein 2% dan 1ml 0,1 glysin kedalamnya.
2.    Menambahkan 5 tetes ninhidrin 0,2%.
3.    mencampurkan baik-baik dan mendidihkannya selama 2 menit.
4.    mencatat peristiwa yang terjadi.



J.  Percobaan 5 : Reaksi Xantoprotein
1.     Menambahkan 2 ml larutan putih telur dan 2 ml larutan HNO3 pekat, dan memanaskan larutan tersebut.
2.    mencatat peristiwa yang terjadi.

Percobaan 6 : Reaksi Millon
1.       menambahkan 4 ml larutan putih telur dan beberapa tetes pereaksi millon ( 1 bagian berat Hg dan 2 bagian berat HNO3). Memanaskannya hingga mendidih. Reaksi positif untuk molekul yang mengandung gugus hidroksil-fenil seeperti tyroksin.
2.       Mengamati perubahan yangterjadi.
Percobaan 7 : Pengujian protein dari suatu bahan
1.     Menyiapkan 3 macam bahan (gandum, tepung kedelai, tepung beras)
2.    Mengambil masing-masing kurang lebih 1 sendok makan, dan menambahkan air sebanyak 100 ml dalam erlenmeyer kemudian memanaskannya dalam penangas air 600C selama 10 menit kemudian menyaring larutan tersebut dengan kain saring.
3.    Menguji filtrat yang telah diperoleh dengan pereaksi ninhidrin, dan mencatat warna yang terjadi.  

DATA PENGAMATAN
Lampiran 1.2.
PEMBAHASAN
Percobaan 1 : Denaturasi panas dan pH yang ekstrim
-        Pada larutan protein tabung 1 setelah ditambahkan HCl dan dipanaskan selama 10 menit warna larutan menjadi putih. Kemudian ditambahkan basa (e) agar netral, warna larutan berubah lagi menjadi jernih dan terdapat gumpalan keruh. Larutan ini palingcepat menggumpal, yaitu hanya membutuhkan waktu ( 3 : 27 ).
-        Pada larutan protein tabung 2 setelah ditambahkan HCl dan dipanaskan selama 10 menit warna larutan menjadi jernih. Kemudian ditambahkan asam (e) agar netral, warna larutan berubah lagi menjadi jernih 1+.
-        Pada larutan protein tabung 3 setelah ditambahkan aquades dan dipanaskan selama 10 menit warna larutan menjadi keruh.
Denaturasi protein adalah suatu peristiwa yang terjadi akibat perubahan struktur protein yang lebih kompleks. Larutan protein yang dipanaskan dengan asam klorida (HCl 1 N) akan menghasilkan asam amino bebas (protein mengalami hidrolisis). Selain itu, larutan protein yang dipanaskan akan berubah warna dan mengalami koagulasi (penggumpalan). Setelah didinginkan, protein yang terkoagulasi ini tidak dapat larut kembali. Larutan pada tabung 1 yang ditambah dengan HCl terdapat gumpalan sedangkan larutan yang ditambah NaOH dan aquadest tidak. Pada tabung 1 pH larutan tidak netral (asam) dan menjadi netral setelah ditambahkan beberapa tetes NaOH 1 N. Larutan pada tabung 2 yang ditambah basa NaOH pH-nya tidak netral dan dapat menjadi netral setelah ditambahkan beberapa tetes HCl 1 N. Larutan pada tabung 3 yang ditambah aquadest tidak menunjukkan adanya gumpalan. Hal ini disebabkan aquadest tidak mampu menghidrolisis protein menjadi asam amino bebas.

Percobaan 2 : Presipitasi dengan logam berat
Larutan protein yang ditambahkan ZnSO4 berubah warna menjadi putih. Kemudian setelah ditambahkan ZnSO4 secara berlebih waran larutan menjadi putih kental. Karena tidak terdapat gumpalan putih maka larutan ini tidak terbentuk garam protein-logam yang tidak larut (Gumpalan putih yang muncul adalah garam protein-logam).
Percobaan 3 : Reaksi Biuret
Tes biuret merupakan salah satu tes  uji protein, bekerja pada suasana basa, dan akan memberikan perubahan warna pada larutan yang diuji menjadi berwarna violet/ungu dengan CuSO4 , karena terbentuk kimpleks Cu2+ dengan gugus CO dan gugus NH dari rantai peptida dalam suasana basa. 2 ml larutan protein setelah ditambahkan NaOH dan CuSO4 kemudian digojog warna larutan menjadi jernih dengan warna ungu dibagian atasnya dan terjadi cincin berwarna ungudi bagian tengah larutan. Prinsip dari metode biuret adalah ikatan peptida dapat membentuk senyawa berwarna ungu. warna ungu ini disebabkan terbentuknya kompleks Cu2+ dengan protein pada gugus asilnya. Di sini, uji terhadap larutan protein positif.
Percobaan 4 : Reaksi Ninhidrin
-        Pada larutan kasein yang ditambahkan ninhidrin dan dipanaskan selama 2 menit tidak terjadi perubahan warna dan terjadi endapan keruh.
-         Pada larutan glisyn yang ditambahkan ninhidrin dan dipanaskan selama 2 menit tidak terjadi perubahan warna. Warna larutan tetap seperti pada awal yaitu jernih.
Warna kedua larutan tidak mengalami perubahan sehingga pada kasein dan glysin tidak diperoleh indikasi terbentuk atau adanya asam amino bebas. Karena reaksi dengan ninhidrin akan menimbulkan warna jernih sampai membentuk warna merah muda. Uji terhadap kasein dan glysin negative karena perubahan warna tidak sesuai dengan teori.

Percobaan 5 : Reaksi Xanto Protein
Larutan protein yang ditambahkan HNO3 kemudian dipanaskan mengalami perubahan warna menjadi jernih dan terdapat gumpalan kuning dibagian atas. Hal ini disebabkan oleh uji xanto protein merupakan uji kualitatif pada protein yang digunakan untuk menunjukkan adanya gugus benzena (cincin fenil). Reaksi positif jika pada uji xanto protein munculnya gumpalan atau cincin warna kuning. Pada uji ini, digunakan larutan HNO3 yang berfungsi untuk memecah protein menjadi gugus benzena.

Percobaan 6 : Reaksi Millon
4 ml larutan protein yang ditambahkan pereaksi millon dan dipanaskan sampai mendidih maka akan terjadi perubahan warna menjadi coklat. Karena prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuridari tirosin yang ternitrasi . Tirosin merupakan asam  amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk  garam merkuri dengan pereaksi millon. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Dari uji tersebut diketahui bahwa, uji terhadap larutan protein negatif walaupun secara teori tidak. Alasan yang mungkin untuk hal ini adalah kesalahan praktikan dalam bekerja.
Percobaan 7 : Pengujian protein dari suatu bahan
-        Larutan gandum setelah dipanaskan dan ditambahkan pereaksi ninhidrin berwarna keruh +.
-        Larutan tepung kedelai setelah dipanaskan dan ditambahkan pereaksi ninhidrin berwarna keruh 2+.
-        Larutan tepung beras setelah dipanaskan dan ditambahkan pereaksi ninhidrin berwarna putih 1-.
Hasil yang diperoleh dari percobaan tersebut  setelah semua larutan disaring dan ditetesi larutan ninhidrin. Tidak terjadi perubahan warna yang signifikan. Perubahan warna hanya pada tepung kedelai dari kuning menjadi keruh. Hal ini terjadi kurang tepatnya dalam proses penyaringan,dan konsentrasi larutan yang diuji kurang encer.



PENUTUP
K.  KESIMPULAN
Dari beberapa percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa uji protein dapat dilakukan dengan cara denaturasi protein, presipitasi dengan logam berat, uji biuret, uji millon, dan uji xantoprotein. Pada percobaan denaturasi protein, tabung 1 menunjukkan adanya protein dengan terbentuknya gumpalan putih/keruh dan pada percobaan presipitasi tidak menunjukkan adanya protein karena tidak terbentuknya gumpalan putih yang merupakan garam protein-logam. Uji xanto protein menunjukkan adanya kandungan protein pada larutan karena larutan mengalami perubahan warna menjadi kuning dan terbentuk gumpalan  dibagian atas. Untuk uji biuret dan uji millon terhadap larutan protein negatif walaupun secara teori tidak. Alasan yang mungkin untuk hal ini adalah kurang ketelitian praktikan dalam bekerja.
Uji ninhidrin pada kasein dan glysin menunjukkan hasil negative ini berarti pada kasein dan glysin tidak terdapat kandungan protein. Pada pengujian protein dari suatu bahan diketahui bahwa hanya tepung kedelai yang terdapat kandungan protein, karena hanya filtrat dari tepung kedelai yang mengalami perubahan warna. Bisa saja tepung beras dan gandum mengandung protein hanya saja pada percobaan ini tidak terbukti karena kurang tepatnya dalam proses penyaringan,dan konsentrasi larutan yang diuji kurang encer.

L.  DAFTAR PUSTAKA
-          Christiningsih MS, Ir. Rosanna. 2011. PETUNJUK PRAKTIKUM BIOKIMIA, Fakultas Pertanian UST, Yogyakarta.
-          Martoharsono, Ir. Soeharsono dan Drs. Mulyono Apt.1978. Petunjuk Praktika Biokimia, team pengelola kuliah dan praktika biokimia universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

1.3.        Bagian ketiga
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
ACARA III
UJI KUALITATIF LIPIDA
Dosen Pengampu: Ir. Rosanna Christiningsih, MS.
Selasa, 27 November 2012

        
PENDAHULUAN
A.     TUJUAN
Untuk mengetahui macam-macam asam lemak yang menyusun lipida pada suatu jenis minyak.
B.      DASAR TEORI
Lipida adalah biomolekul organic yang tidak larut dalam air. Dapat diekstrak dari sel dan jaringan dengan menggunakan zat pelarut non polar seperti chloroform, eter, benzene, dan heksana. Lipida juga merupakan satu golongan senyawa tersendiri dan seringkali bergabung dengan golongan senyawa lain seperti karbohidrat dan protein dengan nama glikolipid atau lipoprotein.
I.                    Klasifikasai

LIPIDA KOMPLEK
2.       Fungsi lipida
a.       Asam lemak
Diantara asam lemak yang terdapat didalam alam ada dua yang sifatnya esensil bagi hewan tingkat tinggi ( mamalia), yaitu asam linoleat dan linolenat. Tikus yang diberi makan bebas asam-asam tersebut akan menderita sakit ( bulu-bulunya akan lepas). Fungsi asam lemak esensil lainnya ialah precursor pada sintesa prostaglandin.
b.      Asilgliserol
Menjadi ester dengan asam lemak, gliserol juga bisa membentuk ikatan ester dengan alkana.
c.       Fosfogliserida
Golongan senyawa ini sering disebut gliserofosfatida. Senyawa indukknya ialah asam fosfatida yaitu ester gliserol dengan asam fosfat. Asam ini termasuk seri L. senyawaan golongan ini merupakan komponen utama pada membrane sel. Fosfatidil gliserol kadang-kadang terdapat dalam membrane bakteri. Kardiolipin juga banyak terdapat dalam membrane mitokondria bagian dalam.
d.      Sfingolipida
Senyawa ini merupakan komponen utama pada sel tanaman maupun hewan. Banyak sekali terdapat padaotak dan jaringan saraf. Baik sfingosindihidrosfingosin masing-masing adalah basa penyusun sfingolipida pada mamalia sedangkan fitosfingosin terdapat pada tanaman dan 4, 8 – sfingadiena pada ikan.
e.      Gangliosida
Senywa ini penting untuk penerusan impuls saraf melalui sinapsis. Ikut bagian dalam menentukan spesifikasi golongan darah, spefisitas golongan jaringan dan organ. Selain itu juga penting dalam imunitas jaringan dan sisi pengenalan sel-sel dalam rangla pertumbuhan dan struktur jaringan. Sel yang menderita kanker, glikospingolipidanya berbeda dari sel normalnya. Terjadi akumulasi gangliosida GM2 dalam otak menderita sakit tay-Sachs, yang sifatnya genetis.
f.        Lilin
Komponen utama asam lemak yang terdapat dalam lilin ialah asam palmitat dan alcohol alifatik beratom 26-34. Berfungsi sebagai lapisan pelindung pada kulit, sayap, daun, dan buah.
                LIPIDA SEDERHANA
a.       Terpena
 Banyak diantara terpena yang dijumpai dalam tanaman mempunyai citarasa dan aroma yang khas. Misalnya : geranfol terdapat dalam minyak geranium, pinen dalam minyak terpentin, kamper dalam minyak kamper.  B karoten merupakn perkusor vitamin A. karet yang trdapat dalam lateks hevea brasiliensis adalha polisoprena. Koenzima Q dan plastokinon kedua-duanya termasuk kedalam golongan ini yang berfunsi sebagai pengangkut electron pada fosforilasi oxidative dan electron transport.
b.      Steroida
Senyawa golongan ini mengandung perhidrosiklopentano fanantrena yang berasal dari sikllisasi skualena. Sub golongan yang terpenting didalamnya adalah sterol. Contoh yang paling penting adalah ianosterol, karena senyawa ini bergerak sebagai precursor cholesterol dalam hewan. Cholesterol tidak larut dalam air tetapi larut dalam eter, chloroform, benzene dan alcohol panas.
c.       Prostaglandin
Funsinya untuk menunjukkan aktivitas hormonal atau regulator. Dalam jumlah yang kecil dapt merendahkan tekanan darah dan memacu kontraksi jaringan tertentu.
II.                  Sifat-sifat umum dan reaksi lipida
1.     Penyabunan
2.     Addisi
3.     Ketengikan

C.      BAHAN DAN ALAT
Bahan :
-        Pereaksi Hubl.
-        Minyak kelapa.
-        Minyak kelapa tengik.
-        Asam palmitat.
-        Asam stearat.
-        Asam oleat.
-        Alcohol.
-        Indicator pp.
-        KOH 0,1 N.
-        HCl.
-        Florogloecenol.

Alat :
-        Tabung reaksi.
-        Drop pipet.
-        Pipet ukur.
-        Erlenmeyer.
-        Penangas air.
-        Penjepit.

D.     CARA KERJA
Percobaan 1 : Uji ketidak jenuhan Minyak (Uji Jod)
1.       Menyiapkan tabung reaksi yang bersih.
2.       Menuangkan kedalam pereaksi Hubl.
3.       Menambahkan kedalamnya:
Tabung 1 : 1 tetes minyak kelapa.
Tabung 2 : 1 tetes asam palmitat.
Tabung 3 : 1 tetes asam stearat.
Tabung 4 : 1 tetes asam oleat.
4.       membandingkan perubahan warna yang terjadi.
5.       Menambahkan setetes demi setetes apabila warna merah muda belum hilang.
6.       Mencatat berapa tetes yang dipergunakan untuk menghilangkan warna (max 50 tetes).
Percobaan 2 : Uji Asam Lemak Bebas
1.       Menyiapkan 2 tabung erlenmeyer 250 ml yang sudah bersih.
2.       Menuangkan pada :
Erlenmeyer 1 : 2 ml minyak kelapa.
Erlenmeyer 2 : 2 ml minyak kelapa tengik.
3.       Menambahkan kedalamnya masing-masing 50 ml alkohol 95% netral dan 1 tetes indikator pp.
4.       Memanaskan dalam penangas air mendidih sampai suhu kira-kira 600C.
5.       Menetesi dengan 0,1 N KOH, sehingga timbul warna merah jingga yang bertahan selama 15 detik.
6.       Mencatat berapa kebutuhan KOH.
Percobaan 3 : Uji Hasil Oksidasi (Uji Kreist)
1.       Meyiapkan 2 tabung reaksi yang sudah bersih.
2.       Menuangkan kedalamnya:
Tabung 1 : 2 ml minyak kelapa.
Tabung 2 : 2 ml minyak kelapa tengik.
3.       Menambahkan kedalm masin-masing tabung 2 ml larutan 1% florogloecenol dalam eter dan 2 ml larutan HCl pekat.
4.       Menggojog dengan baik-baik larutan.
5.       Membandingkan perubahan warnanya.
DATA PENGAMATAN
Lampiran 3.
PEMBAHASAN
Percobaan 1 : Uji ketidak jenuhan minyak (Uji Jod)
Uji ketidak jenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi Iod Hubl. Iod Hubl ini digunakan sebagai indicator perubahan. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus hidrokarbonnya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan timbulnya warna merah ketika iod Hubl diteteskan ke asam lemak, lalu warna kembali lagi ke warna awal kuning bening.Warna merah yang kembali pudar menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai hidrokarbon asam lemak.
Pada uji ketidak jenuhan minyak ( uji jod ) ini yang digunakan adalah minyak kelapa sawit, minyak kelapa, asam palmitat, asam stearate dan asam oleat. Pada tabung satu setelah 38 tetes minyak kelapa sawit diberi 1 ml larutan hubl warnanya berubah menjadi orange 2+, pada tabung 2, 1 ml larutan hubl ditambah dengan 40 tetes minyak kelapa warna berubah menjadi coklat 2+ dan jernih, pada tabung 3, 1 ml larutan hubl ditambah dengan 41 tetes asam palmitat warna berubah menjadi coklat 2+ dan keruh, dan pada tabung 4, 1 ml larutan hubl ditambah dengan 42 tetes minyak asam stearat berubah menjadi coklat 3+, dan untuk tabung 5, 1 ml larutan hubl ditambah dengan 41 tetes minyak kelapa warna berubah menjadi bening. Jadi setelah dilalukan percobaan, reaksi diatas negative mengalami ketidakjenuhan asam lemak. Sifat-sifat umum dan reaksi lipida diatas tergolong dalam reaksi addisi yang menyebabkan asam lemak tidak jenuh dapat direduksi, di hidrogenesi dioksidasi, dan mengddisi. Disbanding dengan asam lemak jenuh maka jenis lemak ini lebih reaktif. Banyaknya gram jod yang diaddisi oleh 100 gram lemak dinamakan angka jod.

Percobaan 2 : Uji asam lemak bebas
Pada percobaan ini KOH yang digunakan pada minyak kelapa sebanyak 49 tetes hingga larutan berubah warna dan antara alcohol dengan minyak menjadi terpisah sehingga kadar asam lemak ini paling banyak. Sedangkan pada minyak kelapa tengik digunakan 55 tetes KOH hingga warna berubah menjadi keruh, kadar asam lemak pada uji ini paling banyak. Selain menggunakan minyak kelapa, uji asam lemak bebas ini juga menggunakan minyak kelapa sawit. Pada saat minyak sawit ditetesi KOH 45 tetes kadar asam lemaknya menjadi yang paling sedikit. Dan pada minyak sawit tengik ditetesi 50 tetes KOH sehingga kadar asam lemaknya sedang. Dalam uji asam lemak bebas, terjadi reaksi lipida dari sifatnya, yaitu ketengikan di mana ketengikan itu akan mempengaruhi kadar asam lemak. Rasa dan bau yang tidak menyenangkan yang timbul bilamana minyak atau lemak disimpan disebabkan karena dua hal, yaitu hidrolisis dan oksidasi. Pada proses yang pertama lemak atau minyak dihidrolisis menghasilkan asam lemak bebas (ALB) dan gliserol.kecepatan hidrolisis ini dipercepat dengan adanya jasad renik yang mungkin tumbuh dan mengeluarkan lipase atau asam. Asam lemak yang dibebaskan, terutama yang tidak jenuh akan dioksidasi. Oksidasi itu terjadipada ikatan rangkapyang kemudian terpecah menghasilkan aldehid, keton dan asam-asam yang lebih rendah berat molekulnya. Darikeempat macam minyak diatas yang cepat terhidrolisis adalh minyak yang sudah tengik, karena dibantu oleh jasad retnik dan organisme-organisme yang mungkin hidup dalam minyak yang telah tersimpan.
Percobaan 3 : Uji hasil oksidasi (Uji Kreist)
Dalam percobaan ini diperoleh warna kuning dan putih /bening  pada minyak kelapa, untuk minyak kelapa tengik warna larutan berubah menjadi kuning 3+ dan coklat bening. Sedangkan untuk minyak kelapa sawit diperoleh warna kuning 2+ dan kuning bening, dan untuk minyak kelapa sawit tengik diperoleh warna coklat dan ungu 2+. Adapun uji kreist (reaksi warna dengan epihidrinaldehida) atau angka peroksida ini merupakan pengujian untuk menentukan ketengikan oksidatif.




PENUTUP
E.      KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada uji ketidak jenuhan minyak (uji Jod) macam minyak yang termasuk asam lemak tidak jenuh adalah asam oleat, asam stearat, dan asam palmitat. Karena warna larutan berubah menjadi kuning dan kuning 4+, hal ini menunjukkan bahwa pada keempat macam minyak tersebut terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai hidrokarbon asam lemak. Sedangkan minyak kelapa termasuk asam lemak jenuh karena warna larutan tetap.
Pada uji asam lemak bebas minyak kelapa tengik memiliki asam lemak bebas lebih banyak daripada minyak kelapa. Hal ini terbukti dari jumlah tetes KOH yang dibutuhkan untuk minyak kelapa tengik lebih banyak daripada jumlah tetes KOH untuk minyak kelapa.
Pada uji hasil oksidasi (uji kreist) minyak kelapa tengik lebih mudah teroksidasi dari pada minyak kelapa. Hal ini terbukti dari warna minyak kelapa tengik lebih pekat yaitu coklat dan ungu 2+ daripada minyak kelapa yang menjadi berwarna kuning dan bening.


F.       DAFTAR PUSTAKA
-          Christiningsih MS, Ir. Rosanna. 2011. PETUNJUK PRAKTIKUM BIOKIMIA, Fakultas Pertanian UST, Yogyakarta.
-          Martoharsono, Ir. Soeharsono dan Drs. Mulyono Apt.1978. Petunjuk Praktika Biokimia, team pengelola kuliah dan praktika biokimia universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.







1.4.            Bagian ke empat
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
ACARA IV
UJI KUALITATIF ENZIM
Dosen Pengampu: Ir. Rosanna Christiningsih, MS.
Selasa, 4 Desember 2012



PENDAHULUAN
A.  TUJUAN
Untuk mengetahui sifat-sifat enzim secara kualitatif.
B.  DASAR TEORI
Enzim adalah protein yang disintesa oleh sel hidup yang berfungsi mengkatalisa jenis reaksi kimai tertentu yang terjadi didlam dan diluar sel yang menghasilkannya. Berdasarkan hal itu maka enzima juga dinamakan sebagai bikatalisator. Oleh karena kelompok , jenis dan macam reaksi yang berlangsung didalam maupun diluar sel itu banyak sekali, maka enzim yang mengkatalisa reaksi-reaksi tersebut diatas, jenis serta jumlahnya tak terhingga banyaknya. Kelompok reaksi yang disebut diatas ialah : oksidasirededuksi ( oksred ), transfer atau pemindahan, hidrolisis, lisi, isomerisasi dan ligase. Sebagaimana halnya protein pada umumnya maka aktivitas katalis enzim antara laindipengaruhi oleh pH, suhu dan substrat maupun enzima itu sendiri. Beberapa percobaan untuk mengetahui sifat-sifat ensim yaitu degradasi tepung oleh enzim diastase, pengaruh panas terhadap aktivitas diatase, dan pengujian amilase dari kecambah. 
C.  ALAT DAN BAHAN
Bahan :
-        Amillum 1%
-        Asam atau basa (buffer)
-        Diastase
-        Jodium 0,01 N
-        Dekstrin
-        Glikogen
-        Benedict Reagen
-        Biji kacang hijau
-        Taoge
-        Aquades
Alat :
-        Tabung reaksi
-        Lempeng porselin
-        Penangas air
-        Kain saring
-        Mortal
D.  CARA KERJA
Percobaan 1 : Degradasi Tepung Oleh Enzim Diastase
1.     Menyiapkan 3 tabung reaksi yang sudah bersih.
2.    Memasukkan kedalam masing-masing tabung 2 ml amilum 1%.
3.    Mengatur pH nya dengan menambah asam atau basa (buffer) pada :
Tabung 1 : pH = 4
Tabung 2 : pH = 6
Tabung 3 : pH = 8
4.    Kemudian memasukkan pada tiap-tiap tabung 1 ml diatase.
5.    Dan memanaskannya pada penangas air dengan suhu 400C.
6.    Setiap 3 menit, mengamati tabung 1, 2, dan 3 dengan cara mengambil 1 tetes larutan tersebut. Dan meneteskannya ke lempeng porselin dan menambahkan 1 tetes larutan 0,01 N jodium.
7.    Mencatat perubahan warna yang terjadi.
8.    Membandingkan warnanya (ambil 1 tabung lagi)
Amilum ditambah jodium
Dekstrin ditambah jodium
Glikogen ditambah jodium
9.    Mengetes hasil akhir tabung 1, 2, dan 3 dengan Benedict reagen. (diatase bermanfaat atau tidak)
Percobaan 2 : Pengaruh Panas Terhadap Aktivitas Diatase
1.     Menyiapkan 6 tabung reaksi yang sudah bersih.
2.    Masing- masing diisi dengan amilum 1% sebanyak 2 ml dan larutan diatase 2 ml pada masing- masing tabung.
3.    Siapkan penangas air pada suhu 400C dan 1000C.
Tabung 1 dan 2 dipanaskan pada suhu 400C selama 30 menit.
Tabung 3 dan 4 dipanaskan pada suhu 1000C selama 10 menit.
Tabung 5 dan 6 dipanaskan dibiarkan pada suhu kamar selama 30 menit.
4.    Kemudian masing-masing ditambah kurang lebih 1 ml Jod 0,01 N.
5.    Amati perbedaan warna yang terjadi.
Percobaan 3 : Pengujian Amilase dari Kecambah
1.     Siapkan 3 macam bahan (biji kacang hijau dan taoge) masing-masing 5 gram, hancurkan dengan mortar.
2.    Tambahkan aquades 20 ml kemudian disaring dengan kain saring.
3.    Siapkan 4 tabung reaksi yang sudah bersih.
4.    Masukkan kedalamnya masing-masing 3 ml amilum 1%, atur pH nya dengan menambahkan asam atau basa (buffer) sehingga pH = 6,0.
5.    Pada tabung 1 dan 2 ditambah masing-masing 1 ml ekstrak kacang hijau.
6.    Pada tabung 3 dan 4 ditambah masing-masing 1 ml ekstrak tauge.
7.    Panaskan pada suhu 400C dalam penangas air.
8.    Pada menit ke 0 dan ke 20 diambil 1 tetes bahan tersebut dalam lempeng porselin dan ditambahkan 1 tetes larutan Jod 0,01 N.
9.    Catat perubahan-perubahan yang terjadi.
DATA PENGAMATAN
Lampiran 1.4.
PEMBAHASAN
Percobaan 1 : Degradasi Tepung Oleh Enzim Diastase
Pada percobaan degradasi tepung oleh enzim diastase, larutan amilum dengan pH 4, 6, dan 8 ditambahkan dengan larutan diastase kemudian dipanaskan pada suhu 400C. Selama pemanasan tiap 3 menit sampai menit ke-9 masing-masing larutan diambil 1 tetes untuk diuji dengan larutan Jod. Dari perlakuan tersebut terjadi perubahan warna yang berbeda pada masing-masing larutan. Warna larutan amilum dengan pH 4 menjadi jernih 3+, kuning 1+ dan kuning 4+. Untuk larutan amilum dengan pH 6 warna larutan menjadi jernih 2+, kuning 2+, dan kuning 5+. Sedangkan untuk larutan amilum dengan pH 8 warna larutan menjadi jernih 1+, kuning 3+ dan kuning 6+. Penggunaan ensim diastase ditujukan untuk menghidrolisis atau mendegradasi amilum yang digunakan sebagai bahan pokok pengujian. Percobaan ini untuk menguji kemampuan ensim diastase dalam melakukan degradasi tepung (amilum). Perbedaaan perubahan warna yang terjadi pada masing-masing larutan disebabkan karena aktifitas ensim diastase yang dipengaruhi oleh pH.
Sebagai pembanding, 1 tetes larutan amilum, dekstrin, dan glikogen pada cawan porselin ditambahkan 1 tetes Jod 0,01N. Sehingga pada larutan amilum menjadi berwarna biru doker, dekstrin berubah menjadi bening, dan glikogen berubah menjadi kuning.

Percobaan 2 : Pengaruh Panas Terhadap Aktivitas Diatase
Pada percobaan 2 larutan amilum ditambah dengan larutan diastase kemudian dipanaskan pada 3 suhu yang berbeda yaitu tabung 1 dan 2 dengan  suhu 400C selama 30 menit, tabung 3 dan 4 pada suhu 1000C selama 10 menit, dan tabung 5 dan 6 dengan suhu kamar. Sebelum pemanasan ditambah yod rata-rata semua larutan memiliki warna yang sama yaitu putih, keruh. Dan setelah pemanasan rata-rata warna larutan sama juga yaitu kuning dengan kepekatan berbeda-beda, namun untuk larutan pada suhu 1000C tidak terdapat endapan. Perubahan  hasil warna yang berbeda antara larutan pada tabung 1 dan 2, tabung 3 dan 4, serta tabung 5 dan 6 disebabkan karena diberi perlakuan suhu yang berbeda-beda.

Percobaan 3 : Pengujian Amilase dari Kecambah
Pada percobaan 3 yaitu pengujian amylase dari kecambah dilakukan dengan menghaluskan 5 gram biji kacang hijau dan 5 gram taoge dengan mortar. Kemudian ditambahkan 20 ml aquades yang kemudian disaring dengan kain saring ke dalam erlenmeyer. Kemudian dengan menyediakan 4 tabung reaksi yang diisikan masing-masing 3 ml amilum 1% yang sudah diatur pHnya menjadi 6, pada tabung 1 dan 2 ditambah 1 ml ekstrak kacang hijau, sedangkan pada tabung 3 dan 4 ditambah 1 ml ekstrak taoge yang kemudian dipanaskan dalam suhu 400C. Pada menit ke-0 larutan pada masing-masing tabung diambil 1 tetes yang kemudian diteteskan pada lempeng porselin dan ditambahkan larutan jod. Warna yang dihasilkan pada tabung 1 dan 2 adalah hijau, dan pada tabung 3 dan 4 warna yang dihasilkan kuning dan abu-abu. Pada menit ke-20 dengan cara yang sama pada ke 4 tabung terjadi perubahan warna. Yaitu warna kuning dengan kepekatan yangberbeda-beda. Untuk tabung 1 dan 2 larutan secara berturut-turut berwarna kuning 2+ dan 3+, sedangkan pada tabung 3 dan 4 larutan berwarna kuning dan kuning 4+.
Adanya Kesalahan dapat terjadi pada pembuatan filtrat atau dalam meneteskan larutan Jod sehingga berpengaruh pada warna larutan yang tetap sama atau tidak terjadi perubahan warna.

PENUTUP
E.  KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa aktivitas ensim dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu pH dan suhu.  Dari percobaan 1 diketahui bahwa ensim diastase dapat mendegradasi amilum dan bekerja secara optimal pada pH netral. Selain itu aktivitas ensim juga dipengaruhi oleh suhu dari percobaan 2 dapat diketahui bahwa ensim dapat bekerja optimal pada suhu kamar sampai suhu 400C. Aktivitas ensim amilase pada taoge lebih besar dari pada aktivitas amilase pada kacang hijau.

F.  DAFTAR PUSTAKA
-          Christiningsih MS, Ir. Rosanna. 2011. PETUNJUK PRAKTIKUM BIOKIMIA, Fakultas Pertanian UST, Yogyakarta.
-          Martoharsono, Ir. Soeharsono dan Drs. Mulyono Apt.1978. Petunjuk Praktika Biokimia, team pengelola kuliah dan praktika biokimia universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar